PENGUSAHA INDONESIA HARUS CEPAT TANGKAP PELUANG DI CINA



    
     Jakarta, 18/2 (AFEC/ANTARA) - Pengusaha RI harus secepatnya
menangkap peluang pasar di Cina menyusul masuknya negeri tirai bambu
itu ke organisasi perdagangan dunia (WTO), namun harus terlebih
dahulu meningkatkan  daya saing.
     Direktur Kerjasama Ekonomi Multilateral Deplu RI, Djauhari
Oratmangun, di Jakarta, Senin mengatakan, secara prinsip masuknya
Cina ke WTO akan membuka pintu peluang bisnis.
     "Dibukanya Cina terhadap perdagangan bebas, akan membuka akses
terhadap hubungan perdagangan investasi yang lebih besar ke negara
itu," kata Djauhari pada Munas IV Asperapi 2002, di Jakarta.
     Menurut dia, jumlah penduduk Cina yang mencapai 1,3 miliar
dengan tingkat pertumbuhan GDP rata-rata 9,7 persen dan menurunkan
bea masuk, akan menjadi pasar yang besar bagi produk industri dasar
Indonesia.
     Dalam perspektif WTO sebagai institusi global membuat Cina
harus membuka pasar domestik dan memberikan perlakuan sama kepada
setiap anggota WTO.
     Sehingga, Djauhari menjelaskan, minimal Cina akan membuka pasar
mereka bagi agen perjalanan Indonesia sehingga diharapkan wisatawan
Cina lebih banyak lagi berkunjung ke Indonesia.
     Namun sebaliknya, kata dia, tantangan juga menghadang bagi
produk Indonesia masuk ke Cina dengan persaingan perdagangan global
yang terus meningkat.
     Dengan semakin menariknya pasar dan ekonomi Cina, maka
investasi langsung ke negara itu akan semakin meningkat sehingga
bisa saja terjadi investor mengalihkannya dari Indonesia ke Cina. 

                  Surplus 

     Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia-Cina selama lima
tahun terakhir menunjukkan posisi surplus bagi Indonesia.
     Menurut data, pada tahun 2000, ekspor Indonesia ke Cina
mencapai 2.767,71 juta dolar AS, sementara  impor tercatat 2.021,97
juta dolar AS. 
     Dengan demikian, Indonesia mengalami surplus sebesar 745,74
juta dolar AS 4,74 juta dolar AS, namun turun dari tahun 1999
surplus 766,73 juta dolar AS, sedangkan tahun 1998 mencapai puncak
surplus 1.285,48 juta dolar AS.
     Sedangkan komoditi unggulan yang diimpor cina dari Indonesia
hingga kini adalah minyak nabati, pulp dan kertas, plywood dan
barang dari kayu, benang tekstil, mesin perlatan kantor.
     Produk lainnya adalah perabotan, sepatu, permata dan perhiasan
serta pesawat perekam suara.
      end EB4/N004    

1802022129
NNNN